Tuesday, December 12, 2017

Mengapa Sebaiknya Tidak Selfie Dengan Satwa Langka?


Akhir-akhir ini, jumlah penyebaran photo selfie dengan satwa langka semakin masif penyebarannya di dunia sosial media. Bahkan, beberapa waktu lalu, Indonesia sempat dihebohkan dengan photo seorang aktris wanita ternama Indonesia berpose bersama orangutan kalimantan. Dan, hebatnya lagi, photo tersebut digunakan sebagai sampul sebuah majalah. 

Sebagian orang, ada yang menganggap hal ini biasa saja. Ada juga yang mempermasalahkannya. Mulai dari sisi edukasi sampai ke sisi publikasi. Lalu sebenarnya, seperti apakah sebenarnya perihal foto selfie dengan satwa ini? berikut kami rangkum dari situs bbc Indonesia ( di sini)

1. Satu jepretan selfie bisa membuat hewan stress?

Pada prinsipnya, hewan memiliki fase-fase tertentu mereka tidak mau berinteraksi fisik dengan makhluk lain. Dalam hal ini, biasanya bila ada wisatawan yang membayar untuk bisa berfoto bersama dengan satwa tersebut, hal tersebut akan membuat hewan itu stress. 


Saat swafoto bersama hewan, manusia cenderung "memaksa". Hewan jadi diposisikan sebagai objek foto seperti benda mati, sebab manusia akan mengambil sudut pandang sebagai manusia.

Ingatlah satu hal, hewan, pada prinsipnya sama seperti kita, manusia. Mereka punya perasaan, mereka bisa merasakan sakit, dan punya keinginan untuk menikmati waktunya bersantai tanpa harus diganggu oleh siapapun. Tapi, tahukah kita akan hal demikian?


2. Tertular Penyakit

Interaksi fisik langsung dengan satwa terutama berfoto, memangku, menyentuh, ataupun berpelukan dengan satwa sangat rentan untuk tertular dengan penyakit-penyakit dari satwa tersebut. Atau sebaliknya. Sakit pada manusia tertular kepada satwa. Lalu kalau sudah begini, siapa yang rugi?

Sebagian dari kita mungkin berpikir hal ini untuk edukasi ataupun bagian dari konservasi. Benar, bila dilakukan dengan cara sesuai prosedur dan pada tempat yang tempat oleh orang yang tepat pula. 

Resiko transfer penyakit ini, sebenarnya cukup rentang bila yang melakukannya adalah para wisatawan. Mengingat untuk mengontrol para wisatawan dengan seksama sangat sulit. 


3. Lebih Mengarah ke Komersialisasi

Sebagian besar tujuan selfie dengan satwa lebih cenderung ke arah komersialisasi. Jika untuk edukasi ataupun konservasi, sepertinya sedikit kurang tepat. Contoh sederhana pada kasus Luna Maya dengan orangutan kalimantan. 

Dalam kasus luna maya sangat berbahaya ketika hal tersebut dijadikan tren oleh kids jaman now yang melihat hal tersebut sebagai sesuatu yang keren. Jika itu terjadi, maka hal itu akan sangat berbahaya bagi dunia konservasi. 

Ketika berfoto dengan satwa itu sesuatu hal yang “cute” lalu ia merasa jika akan menjadi keren kalau hewan-hewan tersebut dijadikan hewan peliharaan. Lalu?



4. Cenderung meningkatkan perburuan liar

Hampir seirama dengan pembahasan sebelumnya. Berfoto selfie dengan satwa juga bisa menyebabkan peningkatan perburuan liar. Menurut catatan Profauna, 95% satwa liar yang diperdagangkan di Indonesia ditangkap dari alam. Rantai perdagangan ini berawal ketika warga membeli hewan dari pedagang hewan liar, pedagang membeli dari para penangkap dan pengepul, kata Rosek (World Animal Protection). ''Artinya akan ada banyak satwa liar yang ditangkap dari alam untuk memenuhi napsu warga memelihara satwa di rumah”

Untuk diketahui proses menangkap, mengangkut hewan liar dari hutan menuju kota, menimbulkan stres dan kesakitan buat beberapa jenis satwa. Rosek mengatakan angka kematian tertinggi, mencapai 40% terjadi pada burung nuri dan kakaktua yang dicuri dari habitatnya kemudian diperdagangkan untuk hewan peliharaan.

5. Menyebabkan kematian satwa

Pernah dengar kasus lumba-lumba mati? seekor bayi lumba-lumba mati setelah terpisah dari induknya. Bayi lumba-lumba tersebut terjebak di perairan dangkal, kemudian diangkat dan dipindahtangankan ke sekelompok orang yang ingin berfoto bersama.


Beberapa foto diunggah ke internet, memperlihatkan lubang pernapasan lumba-lumba kecil tersebut tertutup saat orang silih-berganti memegangnya. Lumba-lumba itupun mati kehabisan napas.

Atau kasus kematian burung merak di china? Sebelumnya, di tahun 2016 dua merak mati ketakutan di taman margasatwa Cina setelah pengunjung menarik mereka untuk foto bersama, kemudian mencabut bulunya hingga hewan ini syok.

Tahukah kamu? Untuk bisa memelihara satu ekor anak orangutan para pemburu harus membunuh induknya. Karena sampai di umur tertentu, anak orangutan tidak bisa dilepaskan dan tidak akan dilepaskan oleh sang induknya. Jadi, ketika memotret bersama orangutan itu keren lalu menjadikannya sebuah tren. Bisa dipastikan jumlah pemburuan orangutan akan semakin marak. 


Lalu sebenarnya adakah cara berphoto yang baik dengan satwa? 

Jika 'animal selfie' semacam ini disebut buruk, adakah 'animal selfie' yang baik?

Kata Rosek ada. ''Saat itu dilakukan dengan jarak yang aman, hewan berada di habitat alamnya, dan tidak berada di wilayah tangkapan. Itu baru disebut selfie yang baik.''

Rosek mencontohkan, di Jawa wisatawan bisa pergi ke Taman Nasional Baluran di Situbondo dan berfoto saat ada rombongan rusa melintas di latar belakang. ''Kita bisa berfoto tanpa mengganggu aktivitas rusa, itu sesuatu yang menurut saya luar biasa. Menunjukkan kita pergi ke alam, bahwa di alam itu tempat hidupnya satwa.''
  1. Berfoto dengan latar belakang satwa, kita dengan mereka jaraknya masih agak jauh berarti masih oke ya. Selama ini siy, aku juga belum pernah foto dengan satwa hidup. Paling ambil gambar satwanya aja

    ReplyDelete

Start typing and press Enter to search