Friday, September 8, 2017

Suaka Margasatwa Rawa Singkil, Benteng Kehidupan Rawa Terakhir Di Aceh



“Coba Yudi lihat, daratan di Aceh Singkil ini, semenjak Gempa dan Tsunami Aceh 2004 lalu terus menurun. Nanti, akan kelihatan dengan jelas, bagaimana sebuah meunasah di Desa Kilangan masuk ke dalam tanah” Pak Onrizal mencoba memecahkan suasana yang cukup kaku sepanjang perjalanan kami di pertengahan bulan Juli 2017 lalu. 
Percakapan, demi percakapan mulai mengalir secara perlahan. Ini adalah kesempatan terbaik saya, untuk bisa mengorek ilmu Alam kawasan Rawa di Aceh melalui salah satu ahlinya. Beliau, bernama lengkap Onrizal, Phd. Dosen sekaligus Peneliti pada Fakultas Kehutanan Universitas Sumatera Utara, spesialisasi di Tropical Forest Ecology. Artinya, saya berada di mobil yang tepat untuk menuju ke Rawa Singkil yang merupakan salah satu hutan Tropis sekaligus hutan Mangrove. 

Jujur saja, saya sempat bingung bercampur bahagia kala sebuah undangan masuk ke laman surat elektronik saya beberapa minggu sebelumnya. 

Bahagia, karena akhirnya saya bisa mewujudkan mimpi untuk melihat kawasan rawa terluas di Aceh. Kapan lagi, kan? Bingung, karena tema undangan yang diberikan cukup membuat otak saya yang telah bersarang laba-laba ini makin berkerut. 
anggrek pensil
Melihat dan meliput kegiatan Survey Biota Air dan Tumbuhan Bawah untuk melengkapi data biodiversity dalam revisi Rencana Pengelolaan dan Penyusunan Blok SM/KPHK Rawa Singkil yang dilaksanakan di ketiga resort (Singkil, Runding, dan Trumon). Kegiatan survey ini sendiri bertujuan  akhir agar dapat memahami tingkat keanekaragaman hayati yang dimiliki oleh kawasan tersebut.

Pusing? Bingung? Sama!

Pertanyaan awal yang terbesit adalah, Apa sebenarnya Suaka Margasatwa Rawa Singkil itu? Iya, sangat amat sederhana. Begitulah, saya benar-benar tak paham sama sekali. 

Empat hari sebelum keberangkatan ke Aceh Singkil, saya terpaksa memberanikan diri untuk menemui pimpinan Balai Konservasi Sumber Daya Alam provinsi Aceh untuk menanyakan perihal tersebut. Kalian boleh tertawa, tapi sungguh, saya nekat. Daripada tak paham lalu sok paham? 

“Pak, Saya Yudi, saya ingin masuk ke kawasan Suaka Margasatwa Rawa Singkil dan menulis tentangnya. Tapi Pak, saya tak paham apa itu Suaka Margasatwa Rawa Singkil, bisa tidak, Tolong bapak jelaskan dengan bahasa yang sangat sederhana?” Ya, begitulah pertanyaan yang saya tanyakan kepada Pak Sapto. Beliau tersenyum dan tertawa kecil

“Ya Ampun Yud, Kamu tahu spon? Tahu kan fungsi spon? Dia menyerap air dan bisa menyimpannya bukan? Begitulah salah satu fungsi Lahan Gambut yang berada di Suaka Margasatwa Rawa Singkil. Jadi, ketika musim hujan turun, dan air melimpah. Nah, Lahan gambut yang ada di Singkil, akan menyerap dan menyimpannya. Lalu, ketika musim kemarau, air yang telah disimpan oleh lahan tersebut dilepaskan kembali. Mengalirlah ia menuju ke anak-anak sungai terdekat. Ini baru dari satu sisi saja. Baru sisi sumber air. Kita belum lagi membahasnya dari segi ekologi, ekosistem dan lainnya. Saya tidak akan cerita banyak, kamu kesana saja dulu. Dan, Lihatlah sendiri betapa kayanya daerahmu ini” 
kawasan teratai
Kawan, hari itu, di sebuah ruangan sederhana, saya tertegun tak bergeming. Kehilangan kata-kata untuk pertanyaan selanjutnya. “Lihatlah sendiri betapa kayanya daerahmu ini” adalah sebuah kesimpulan yang indah sekaligus menampar saya dengan cukup telak. Tekad semakin bulat, koyo saya stok, minyak angin, sunblock, dan action cam masuk dalam list barang utama yang harus di bawa!

Ekosistem Rawa Perlahan Terganggu


Boat merah marun pudar yang berisikan 6 orang ini mulai gagah mengarungi sungai Aceh Singkil yang berwarna bak susu coklat ini. Duduk berjejer dari depan ke belakang. Bang Zulfan, salah satu photographer wildlife Aceh duduk paling depan, tepat di atas haluan boat. Saya, dibelakangnya, lalu berturut-turut, Pak Onrizal, Pak Otan (local guide), Mulya, dan terakhir adalah Ustad Amra yang memegang kemudi boat.

Pagi menjelang siang, cuaca yang cerah, langit biru, berhasil memberikan kesan pertama yang luar biasa kepada saya dan team yang baru pertama kali ke Suaka Margasatwa Rawa Singkil. Sudah, jangan tanya betapa takjubnya saya ketika melihat beberapa ekor Elang laut bertengger gagah di pucuk-pucuk pohon mangrove. Tak ada satu sudutpun yang tak instagram-able, tak ada satu sudutpun di Rawa singkil ini yang tak Magnificent.



“kawasan Suaka Margasatwa Rawa Singkil sebenarnya begitu kaya, Yud. Biota bawah airnya begitu kaya. Anggrek hutan apalagi. Kamu mau yang bagaimana? Ada!, satwa langka seperti harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrensis), Orangutan Sumatera, ada! Buaya, kamu tadi tanya buaya kan? Nanti pas hari menjelang sore kamu akan melihatnya dengan jelas di tepi tepi sungai Rawa ini” Pak Onrizal kembali memecahkan suasana. Suaranya bersaing dengan suara boat robin milik ustad Amra dengan sesekali diiringi oleh cuitan burung-burung. Oh Tuhan, aku jatuh cinta dengan Rawa Singkil!

Saya membetulkan diri. Mencari posisi yang nyaman untuk bisa mendengarkan penjelasan beliau lebih panjang. Kondisi alam yang indah menjadi ruang kuliah saya hari itu. Dari paparannya lah, saya mulai paham kalau Rawa yang indah ini, mulai terancam. 

Pembukaan lahan sawit secara besar-besaran, pembalakan liar, perburuan satwa langka sampai hampir punahnya Biawak di kawasan ini, mulai menunjukkan efek negatif. Bila  semua saya jabarkan, maka tak ayal kalian akan membaca cerita ini layaknya membaca makalah ilmiah Thesis salah satu mahasiswa magister ilmu kehutanan. 

Kawasan rawa yang dalam Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 166/Kpts-II/1998, memiliki luas 102.500 hektare.  Akan tetapi pada  pada tahun 2015, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan dalam Surat Keputusan Nomor 103/MenLHK-II/2015 mengurangi luasannya menjadi 81.338 hektar, kini menjadi salah satu kawasan populasi Orangutan Sumatera terpadat. Namun, ya begitulah...

“buaya di sini sudah terlalu banyak, Dek. Kalau dulu, buaya-buaya di sini hampir tidak pernah menyerang warga yang mencari lokan (sejenis kerang rawa). Tapi hari ini, ada warga di Kuala Baru yang di serang ketika dia pulang dari sekolah.” Pak Otan, yang sedari tadi diam mulai memberikan sebuah fakta yang mencengangkan. Kok bisa? 
nelayan di Rawa Singkil

foto by @Zulfanmonika

Ternyata, hal itu terjadi disebabkan tidak berimbangnya lagi ekosistem di Rawa Singkil. Predator buaya diburu tanpa henti. Ya, Biawak, adalah predator telur dan anak buaya rawa. Sayangnya,  Biawak kini mulai langka karena terus di buru lalu dijual ke luar kawasan. Ada yang mengatakan dijual ke pulau Nias, untuk di sate dan di goreng. Ada lagi yang mengatakan di bawa ke negeri Tiongkok untuk dijadikan obat. Yang mana yang benar? Entahlah. Intinya, Biawak mulai langka di sini.

Dulu, katanya, saat di Singkil banyak Biawak, sangat sedikit telur buaya yang sampai menetas, karena dimakan biawak. tapi kini, hampir tiap bulan ada puluhan anak buaya yang menetas, lalu masuk sungai dan terkadang berjemur secara berkelompok di pinggir sungai.

Ini, hanya sebuah contoh kecil akan kacaunya ekosistem. Belum lagi dari banyaknya limbah pestisida yang masuk ke sungai Singkil atau sungai Alas ini. Dan, jika dilihat dari efek mulai berkurangnya hutan akibat pembalakan liar yang kini mulai menyumbang devisa banjir ke kawasan Aceh Singkil yang memang sebagian besar wilayahnya mulai menurun. 
bangau Purple Heron foto @zulfanmonika
Dan, akhirnya, saya pun sedikit paham tujuan Survey Biota Air dan Tumbuhan Bawah ini. tujuan yang paling mudahnya adalah mengindentivikasi kepadatan biota dan tumbuhan bawah. Nantinya, dia akan dibagi per blokking area. Mulai dari blok pemanfaatan, sampai dengan blok konservasi dan penyelamatan. Dari survey ini pula nantinya akan dijadikan salah satu acuan perbaikan kawasan Suaka Margasatwa Rawa Singkil.

Tak terasa, waktu jua yang mengharuskan kami untuk kembali ke desa Kilangan. Semburat jingga di ujung cakrawala mulai terlihat. Tak cukup terang, karena tertutupi awan kelabu. Bergulung-gulung, meneteskan bulir-bulir gerimis. Masuk sampai ke relung hati, membuat saya tak kuasa menahan haru dan sedih. Langit sore itu, memberikan kesimpulan kepada saya akan kondisi Suaka Margasatwa Rawa Singkil. Indah, tapi kelabu...


By : Yudi Randa
Travel Blogger Aceh
  1. Alamnya indah, tapi sangat menantang dengan banyaknya buaya.
    Sementara biawak hampir langka. Apakah hal ini sering di sosialisasi oleh Instanti terkait tentang Kegunaan biawak yg memperhambat berkembangnya buaya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. bisa jadi bang Puji, tapi saya sendiri belum sempat mengikuti hal tersebut.

      Delete
  2. Tuhan telah menciptakan bumi dengan segala isinya tempat manusia hidup berdampingan dengan makhluk hidup lainnya, tapi manusia merusaknya, saat bencana datang lalu kita bertanya pada Tuhan, salah kami apa?

    ReplyDelete
    Replies
    1. pertanyaan itu selalu saya tanyakan Ihan...

      Yr

      Delete
  3. Tulisan dan foto-fotonya keren. Menarik sekali sepertinya tempatnya ya... semoga suatu saat bisa berkunjung kesana, (sekalian wisata mancing)...hehehe. http://www.conservationews.tk/

    ReplyDelete
  4. Masih sngat alami ya..
    Semoga akan terus tetap terjaga selamanya..

    ReplyDelete

Start typing and press Enter to search