Tahun 1971 seorang peneliti kebangsaan Belanda Herman D,Rijksen yang bekerja untuk Universitas Wagening yang didanai oleh WWF Belanda dan mendirikan Stasiun Penelitian Ketambe, di Desa Balai Lutu, kecamatan Badar, Kabupaten Aceh Tenggara


leuserlestari.com-Tahun 2012 lalu, tepatnya tanggal 28 November, sebuah resolusi yang cukup berat diambil di Persatuan Bangsa-Bangsa. Mereka menetapkan tanggal 21 Maret sebagai Hari Hutan Sedunia. Menurut data FAO, setiap tahunnya 13 juta hektar (setara dengan luas Negara inggris) lahan hutan menghilang dari muka bumi. Pertumbuhan penduduk yang tak lagi terkontrol, disertai deforestari hutan, memberikan sebuah kenyataan pahit, kiamat semakin dekat!


Beberapa hari, sebelum Hari Hutan Sedunia,


“Yud, dulu, tahun 1980an, sepanjang sungai Alas yang ada di Ketambe, kalau kita naik boat karet bisa melihat gajah, orangutan atau satwa-satwa endemic lainnya lagi main-main di sepanjang pinggir sungai. Hutannya masih lebat, suara burung pun masih terdengar jelas” di sebuah ruangan tak besar, ia bercerita mengenai keindahan hutan yang berada di kabupaten Aceh Tenggara tempat suaminya berasal. Pun, Ia pernah melakukan penelitian di sana kala masih mahasiswa. 


Saya, sebenarnya tak terlalu paham mengenai keindahan hutan. Bagi saya, laut, pulau gosong, ataupun warna-warni terumbu karang, adalah sebuah keindahan yang tiada tara. Ini, hutan? Halah. Pacat dimana-mana, belum lagi ulat bulu. Hewan buas, ular, dan entah apa lagi. Hutan, menurut saya tak lebih hanya sekelompok pohon rimbun yang tumbuh lebat tanpa pernah saya tahu, di mana letak keindahannya. 


Tapi, sepintas, cerita kak Cut, membuat saya membayangkan tentang film Jurassic Park. Yang didalamnya ada satu scene yang luar biasa. Hewan-hewan besar itu berjejer rapi di tepian sungai hendak minum. Lalu, para pengunjung bisa melihatnya secara langsung. Dan, itu Keren!


Sampai di sini, saya mulai penasaran. Seindah apakah hutan Leuser yang ada di Ketambe, Aceh Tenggara itu. Kini, sudah tahun 2017. Tentu sudah jauh berbeda dengan apa yang diceritakan oleh kak Cut kepada saya di suatu sore. 


Tanpa segan, saya mengajukan surat ijin untuk melakukan perjalanan yang cukup jauh. Banda Aceh-Ketambe itu berjarak kurang lebih selama 16 jam perjalanan darat. Dengan medan jalan yang cukup menantang. Sembari dalam hati terus berdoa. Jangan longsor. 


Tak banyak yang tahu, kalau Ketambe, adalah sebagai Pusat Riset Orangutan Tertua di Dunia! Pun saya baru tahu tatkala hendak menuju ke tempat tersebut. Tahun 1971 seorang peneliti kebangsaan Belanda Herman D,Rijksen yang bekerja untuk Universitas Wagening yang didanai oleh WWF Belanda dan mendirikan Stasiun Penelitian Ketambe, di Desa Balai Lutu, kecamatan Badar, Kabupaten Aceh Tenggara
 
Pusat Riset Ketambe
pintu masuk Pusat Riset Ketambe

Betapa, Leuser ini begitu berharga di mata dunia pikir saya dalam hati. Hutannya adalah hutan yang merupakan warisan dunia. Kini, stasiun risetnya adalah yang tertua di dunia. Tak terbayangkan, apa jadinya bila dunia tak lagi memiliki leuser sebagai salah satu assetnya. 


Hujan turun cukup deras. Suasana yang sedari kemarin siang panas akhirnya menjadi sejuk seketika. Bau tanah menyeruak memenuhi seisi desa dan hutan yang berada tepat di sisi utara desa. Saya duduk termenung di sudut warung kopi Wisma Cinta Alam. Menikmati segala yang sedang terjadi. Seolah terlempar kembali ke masa – masa ketika kota Banda Aceh, masih memiliki lahan terbuka yang cukup luas. 


Wah, kedatangan kamu ke sini ternyata disambut baik dengan alam ya Yud” Bang Johan, pria yang bertubuh sedikit tambun ini membuyarkan lamunan masa kecil saya. Ia adalah pemilik wisma tempat di mana saya akan menginap untuk beberapa hari ke depan. Sesaat lalu, saya sebenarnya tengah menghibur diri. Maklum saja, ini adalah kali pertama saya masuk hutan. Mengerti pun tidak apa indahnya hutan. Selain, pepohonan yang rindang, bebatuan yang berlumut, dan sungai. Sudah, hanya itu yang ada dalam bayangan saya. 



“Biasanya, kalau sehabis hujan, kamu akan lebih mudah ketemu orangutan. Tapi hati-hati, jalur trackingnya juga akan licin karena basah kan ya?” Benarkah? Serasa tak percaya. Mendengar kata-kata orangutan membuat saya segera bangkit. Sepertinya hujan akan berhenti sesaat lagi. Saya tak ingin terlambat, siang akan segera naik. Dan, menurut beberapa informasi yang saya terima, bila siang, orangutan akan tidur siang. What? Orangutan tidur siang?


Hutan berhenti, semesta seolah mendukung untuk saya melakukan perjalanan mengarungi sisi hutan untuk beberapa jam ke depan. Dan, saya baru sadar, kalau sepatu yang saya kenakan tak cocok untuk berjalan di permukaan hutan yang licin. Ini sepatu memang lebih cocok untuk masuk kantor, tapi nasi sudah jadi bubur. Maju atau menyesal selamanya. 


“Grook…Groook..Groook” Saya terkepak! Suara bak orang ngorok yang begitu besar terdengar tak sengaja sesaat setelah saya menjejakkan kaki di dalam kawasan hutan. Sosok hitam pekat, berbulu kasar, berdiri menatap tajam ke arah saya. gigi taringnya keluar. Seolah ia siap menerkam. Saya hanya bisa berdiri diam tak berani berbuat apa-apa. Untuk pertama kalinya, sosok makhluk itu membuat saya mematung.

“Bang, udah tidak apa-apa. Itu hanya babi hutan. Hush...hush..” Rajab, guide yang menemani saya bicara dengan santai lalu mengusir binatang hitam legam itu. Babi hutan itu pun lari tunggang langgang. Sial! Babi hutan ternyata. Tapi mengapa besar sekali?


Tokek terbang
Kaki saya berjalan semakin jauh ke dalam hutan. Beberapa serangga hutan mulai terlihat, pepohonan besar nan rindang mulai memanyungi jalan setapak. Kenopi hutan terlihat begitu lebat. Tak lama, saya kembali terperanjat. Bersiap mengarahkan kamera prosumer. Berlomba-lomba zoom in dengan gerak laju sebuah primata besar yang bergelantungan di atas pohon. Hampir saja saya memekik kegirangan kalau tak diingatkan oleh Rajab bahwa kalau berteriak hanya akan mengusik orangutan dan satwa lainnya di dalam hutan. 


Iya, saya akhirnya ketemu orangutan Sumatra untuk pertama kalinya. Kali ini bukan di kebun binatang, bukan pula di siaran televisi BBC ataupun National Geographic. Tapi langsung di hutan! Pun bukan di pusat penangkaran. Ah, saya terkesima tanpa henti. 


Taraaa... inilah dia
Terlintas rasa bangga dalam hati sekaligus malu. Bangga karena Aceh, kampong halaman tempat saya dilahirkan memiliki sesuatu yang begitu hebat. Malu, karena sudah banyak orang dari luar negeri ke tempat ini sejak era penjajahan Belanda. Untuk meneliti dan menikmati keindahan hutan Ketambe ini, sedangkan saya? baru kali ini. Biarkan saja, dari pada tidak sama sekali, iya kan?


Betapa beruntungnya kak Cut dan suaminya, bisa menyaksikan keajaiban hutan Ketambe di masa-masa hutan ini masih begitu lebat dan tak ada perambahan. Betapa beruntungnya para Bule yang sedari tahun delapan puluhan telah menjadikan Ketambe sebagai salah satu tujuan destinasi wisatanya. 


Hutan dalam pusat riset ketambe, di lihat dari seberang jalan.
Sembari terus berjalan menyisiri hutan, sesekali hati kecil ini berteriak, ingin sekali saya marah kepada keadaan hutan yang kini mulai dimakan oleh keserakahan manusia. Kebun-kebun jagung mulai merengsek masuk ke dalam kawasan. 


Saya takut, kalut, galau, ketika harus membayangkan 10 tahun lagi, tatkala kedua anak saya, Ziyad dan Bilqis tumbuh besar nanti, mereka tak lagi bisa menikmati keajaiban dari hutan ketambe seperti yang saya saksikan saat ini. Karena semuanya telah hilang dan punah. Lalu, setiap 21 Maret, hanya sekedar menjadi sebuah seremoni tanpa pernah bisa mengerti betapa indahnya hutan itu sendiri.[YR]

Axact

Leuser Lestari

From Aceh to The World. Mari Bersama Melestarikan Leuser Kita.

Post A Comment:

4 comments:

  1. Iri hati, saya melihat gambar dan cerita ketambe...
    Kalau saya turuti, bisa-bisa Galau bak ditinggal cewek..

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahaha ayo ke leuser Bang Pujiaman

      Delete
  2. Dari dulu ingin sekali bisa berkunjung ke TN Leuser. Padahal ada kemungkinan saat tinggal di sana 4 tahun. Mudah2an ada rejeki bisa mampir satu saat :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amien.. bisa pasti Saudara kelilinglampung :)

      Delete