Thursday, March 9, 2017

Revolusi Hijau, atau Aceh akan Perang Lagi! [opini]


Siang itu di sebuah ruangan yang cukup tertutup. Dalam kepulan asap rokok yang memerihkan mata, saya terkesima dengan konsep yang disampaikan olehnya. Tubuhnya gempal, tegap, dan masih terlihat begitu semangat. Di umur yang tak lagi muda, ia memaparkan sebuah konsep cluster focus pertanian dan peternakan sapi. Mungkin tepatnya penggemukan sapi. 

Layar screen putih itu sesekali muncul bayangan tubuh gempalnya. Dan, saya merasa terpukau akan semua idenya dalam membangun konsep yang kala itu, menurut saya adalah sebuah konsep yang begitu modern. Cara Ia menjelaskan mengingatkan saya tatkala masih kuliah dan sering memberikan presentasi perkembangan bisnis. Serasa bak dalam kelas kampus, semua ide mulai berloncat-loncat. Saya menjadi semangat dan berteriak, Ini Keren Om!

Konsep yang dimaksud sederhananya begini, seperti sebuah simbiosis mutualisme dalam bidang biologi. Sapi diternak dan digemukkan, lalu kotorannya dijadikan pupuk. Pupuk di pakai untuk menyuburkan tanah, tanah yang subur tersebut dipakai untuk menanam tanaman pertanian. Jerami, atau sisa dari tanaman tersebut menjadi pakan sapi. Begitu seterusnya. Sampai akhirnya, menurutnya dengan bisnis tersebut, rakyat Aceh akan makmur. 

Kala itu, ide ini begitu cemerlang, tapi kini? Sepertinya itu merupakan sebuah bom waktu yang akan meledak suatu saat lalu menyisakan kelaparan terbesar dalam sejarah Aceh!
Bagaimana mungkin Aceh akan kelaparan? Mungkinkah saya salah minum obat? Bisa jadi. Tapi mari kita meluangkan membacanya lebih bijak. 

Tahun 2011, Mesir, sebuah negara yang cukup kaya akan hasil alamnya bergejolak. Revolusi, terjadi. Masyarakat berteriak, ribut, anarkis, meminta agar presiden Hosni Mubarak yang telah berkuasa selama 30 tahun lebih. Hampir mirip dengan indonesia. Dan kamu, pasti akan menebak kalau ini disebabkan ketidak-adilan. Otoriter, kejam, dan lain sebagainya. 


Tapi tahukah kamu, kalau jauh sebelum 2011, Mesir sebenarnya mengalami kelaparan hebat? Padahal negara piramida ini, salah satu sumber ekonominya adalah Pertanian? 

“Ekonomi Mesir sangat tergantung pada pertanian, media, ekspor minyak bumi, ekspor gas alam, dan pariwisata, terdapat pula lebih dari tiga juta orang Mesir bekerja di luar negeri, terutama di Arab Saudi, Teluk Persia dan Eropa. Penyelesaian Bendungan tinggi Aswan pada tahun 1970 dan resultan Danau Nasser telah menghasilkan tempat yang dihormati sepanjang masa dari Sungai Nil dalam pertanian dan ekologi negara Mesir. Lonjakan pertumbuhan populasi meningkat pesat. Dan, lahan pertanian semakin terbatas. Sehingga akhirnya membebani kemampuan ekonomi negara ini. Sumber Wikipedia
 
Tahun 2005 sampai Agustus 2008 harga gandum dan jagung naik tiga kali lipat. Beras juga tidak mau kalah, ia naik sampai 5 kali lipat. Bagus dong, itu artinya mensejahterakan petani kan? Ternyata tidak demikian. Data menyebutkan kalau sekitar 20 negara dan 75 juta jiwa manusia justru jatuh kedalam kemiskinan disaat panen terbanyak dalam sejarah. 

Ternyata harga pangan yang tinggi justru menjadi masalah paling besar karena mencakup jaringan pangan di seluruh dunia. Hal ini karena pertumbuhan penduduk dunia selama 10 tahun terakhir justru lebih banyak dari pada pangan yang dihasilkan. Akhirnya, Mesir, yang seyogyanya sebuah negara yang cukup makmur dan subur mengalami KELAPARAN!

Kita semua tahu, rasa lapar membuat orang akan bertindak nekat lalu akhirnya dia akan cenderung menyalahkan pemerintah karena dianggap tak mampu lagi mengawal berbagai kebijakan mengenai pangan dan hajat hidup orang banyak. Jadilah Mesir seperti hari ini.

Lantas, Apa Hubungannya Dengan Aceh? 

Bila konsep cluster focus tersebut berjalan tanpa kontrol yang sangat ketat, dan konsep tersebut berhasil. Lalu di iringi dengan pertumbuhan penduduk di Aceh yang semakin tahun semakin banyak. Baik yang lahir di Aceh ataupun pendatang dari daerah lainnya. Maka yang nanti akan sangat dibutuhkan untuk membuat hal tersebut tetap berjalan adalah lahan! 
 
Laju kerusakan hutan di pulau sumatra selama 20 tahun terakhir. (sumber : google)
Artinya, Aceh akan krisis lahan. Ini sungguh akan terjadi. Belum lagi bila ditambah dengan ide gila membuka lahan baru sebanyak 1 juta hektar. Penegakan hukum Hak Pengusahaan Hutan mulai terbilang mandul seperti saat ini. Maka bisa dipastikan Aceh akan kelaparan!
Suka tidak suka, kenyataannya hari ini sudah mulai terlihat. Debit air sungai alas mulai menurun. Debit air danau laut tawar tiap tahun terus menurun. Luasan cakupan hutan semakin hari semakin berubah fungsi. Menjadi lahan Sawit. Lalu Konsep Penggemukan sapi atau apalah namanya itu juga akan ikut andil. Maka satu yang pasti, Hutan di Aceh akan punah!

Penduduk Aceh hari ini, sebagian besar adalah petani, nelayan, dan pekebun. Lalu apa hubungannya dengan hutan? Sahabat, hutan Ulu Masen kini sudah kritis. Tak lama lagi dia akan punah. Karena apa? Semuanya karena kepentingan populasi dan bisnis. Beberapa kawasan sekitar Ulu Masen sudah mulai merasakan kekeringan dan banjir bandang. 

Jika ini terus menerus terjadi maka dipastikan lahan pertanian, perkebunan akan rusak. Pun tak terkecuali karang laut di sekitar kawasan tersebut. Endapan lumpur yang turun dari gunung akan berlebihan lalu masuk ke sungai hingga akhirnya menyatu dilautan akan menimbulkan sendimentasi di dasar laut. Bisa dipastikan, karang akan terkena dampaknya. 

Bila sudah begini, sawah kering, kebun tak lagi menghasilkan buahan, lalu laut tak lagi memberikan ikan kepada rakyat Aceh maka apa yang terjadi? Aceh akan mengalami konflik terbesar dalam sejarah! Antar satu desa dengan desa lain mulai tak akur, dan ini akan terus berkembang sampai antar kabupaten kota. Hingga akhirnya, orang Aceh akan berperang sesamanya. Hanya karena apa? Hanya karena kita tidak mau benar-benar mengantisipasi kerusakan lahan.  Hampir mirip dengan Mesir bukan?


kawasan hutan di Aceh Jaya yang menjadi lahan sawit (foto by : Junaidi Hanafiah/mongabay.com)

Revolusi Hijau

Sebenarnya ini ide lawas. Indonesia pernah melakukannya. Masih ingat dengan istilah swasembada beras? Konsepnya hampir sama. Akan tetapi, konsep Revolusi Hijau ini, lebih fokus kepada peningkatan hasil pangan tanpa membuka lahan baru. Artinya, Lahan yang ada akan benar-benar dimanfaatkan untuk peningkatan hasil pangan. Sekali lagi, Tanpa membuka lahan baru dan tanpa merusak hutan ataupun sumber air. 

Saya paham, revolusi hijau dahulunya memang berhasil akan tetapi meninggalkan begitu banyak luka. Mulai dari kerusakan lahan karena pupuk kimia, hilangnya beberapa ekosistem dan lain sebagainya. Lalu bagaimana ia bisa menjadi solusi dari masalah pangan kini?
 
berbagai pengamat dunia mengatakan, kalau 20 tahun lagi air kan menjadi komuditas paling mahal di dunia (foto by : team lestari)


Sahabat, perkembangan teknologi, ilmu pengetahuan, dan pemahaman manusia kini sudah jauh lebih baik dibandingkan 70 tahun lalu. Kini ada pupuk organik, tanpa harus pakai pupuk kimia. Sudah ditemukan sistem hidroponic, dan berbagai macam sistem baru yang lebih ramah lingkungan dan alam kini telah hadir dihadapan kita. Pun sudah terbukti meningkatkan hasil pangan. 

Pertanyaan kini adalah, dengan semua ilmu pengetahuan dan teknologi hari ini, serta kepastian peningkatan hasil pangan tanpa harus merusak hutan dan membuka lahan baru, maukah kita, terutama pemerintah Aceh menjadikan ini sebagai role model pembangunan Aceh sekarang dan untuk masa depan?

Kita tidak bisa pungkiri, kalau Aceh, negeri yang kaya. Terutama hutan hujannya. Luas hutan di Aceh secara total adalah 3,4 Juta Ha. Artinya hampir setengah luas area provinsi Aceh adalah hutan dan bisa dipastikan ada lebih 1 jutaan penduduk Aceh mengantungkan hidupnya dari sumber hutan. 
 
ada banyak cara dalam melakukan pemanfaatan lahan tidur dengan maksimal tanpa harus menggunakan zat kimia dan merusak hutan. ( foto by : foto by : Junaidi Hanafiah/mongabay.com)
Bila hutan dihilangkan? Bila hutan Aceh terus dijual oleh oknum yang serakah kepada para pengusaha sawit, tambang dan kayu? Siapa yang menanggung akibat mengamuknya alam? Orang Aceh! Siapa yang lapar dan kelaparan? Orang Aceh! Siapa yang akan saling bunuh-bunuhan karena air ke sawahnya tak cukup lagi? Orang Aceh! 

Lalu si oknum biadab ini, yang sudah menjual hutan Aceh dia akan hidup melenggang bak peragawati menang kostum baru. Sedangkan lebih dari 1 juta rakyat Aceh menderita kemiskinan, kelaparan, dan kematian. Akhirnya? Kita, orang Aceh, saling perang sesama. Hanya karena pemerintah tak tegas, hanya karena oknum penguasa yang serakah memperkosa hutan Aceh sampai hancur!

Post a Comment

Start typing and press Enter to search