Friday, December 2, 2016

Leuser dan Harga Diri Orang Aceh

 Leuser itu apa? Leuser itu di mana? Kenapa dengan leuser?

Saya sempat kaget ketika mendengar cerita bang Zulfan bahwa suatu hari, ia pernah iseng menanyakan “dimanakah leuser itu” kepada sekumpulan anak sekolah menengah pertama di kabupaten Gayo Lues. Si anak dengan bangganya menyebut kalau leuser adanya di Tangkahan, Sumatera Utara.

Seketika ada rasa bersalah yang teramat sangat. Melihat begitu banyak orang Aceh tak mengenal kekayaan dan asset dari daerahnya sendiri. Bukan hanya anak-anak SMP akan tetapi ramai pula yang merasa tak mengenal dengan dekat akan salah satu tempat terbaik di bumi ini. Saya tak berlebihan mengatakan kalau Kawasan Ekosistem Leuser sebagai salah satu tempat terbaik di bumi. Pasalnya, hutan hujan dengan luas mencapai 2,6 juta Ha ini menyimpan begitu banyak potensi.

Aceh, memiliki hampir 70% dari luas total Kawasan. Sayangnya, hari ini, Aceh lebih senang “melacurkan” dirinya kepada para pambalak liar, para pengusaha sawit, dan para pemburu. Seolah tak paham ataukah menutup mata?

Jadi pertanyaan yang begitu menganga, ketika ditanyakan kenapa Aceh terkesan tak peduli akan nasib Leuser yang kini terus diperkosa oleh para cukong yang lapar. Apakah kita, sebagai orang Aceh lupa, kalau Aceh dan Islam itu ibarat tubuh dengan jiwa? Bukankah Islam mengajarkan kalau umatnya wajib menjaga bumi ini dengan sebaik-baiknya. Bukankah manusia adalah Khalifah (pemimpin) atas semua nikmat dari Tuhannya. Lalu yang terjadi di hutan Aceh? Yang terjadi di Leuser kini?

Dalam kitab suci umat Islam, Allah berfirman “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya” Al A`raf : 56. Lalu yang terjadi?

Saya terkadang berpikir, apakah orang Aceh ini sudah bosan menikmati masa damai dari konflik sehingga menciptakan konflik baru dengan alam? Ataukah sebenarnya sebagian orang Aceh ingin tinggal di hutan sehingga harus membunuh, mengusir, dan memburu semua satwa yang ada di hutan ke kota.

Secara hitungan ekonomis, hutan yang lestari jauh lebih berharga dibandingkan dia berubah menjadi lahan sawit ataupun hutan gundul. Sawit memang menawarkan quick cash, tapi sawit memberikan cost operation yang besar. Pemerintah daerah setempat hanya dapat pemasukan dari pajak usaha sawit. Lalu, dampak lingkungan yang terjadi akibat pembalakan hutan yang tanggung adalah Pemda setempat. Bukan pengusaha. Siapa yang rugi? Masyarakat siapa yang kena banjir bandang? Yang kebunnya diserang oleh kawanan gajah?

Cerita selanjutnya baca di sini

Post a Comment

Start typing and press Enter to search