pesona Hutan Leuser


Sial! Kenapa pula saya harus menenteng laptop, dan perlengkapan online lainnya. Padahal, Erul, pemuda asli Gayo Lues yang berambut gondrong ini, sudah mengingatkan kalau kami akan masuk ke kawasan kaki gunung Leuser. Listrik dan sinyal handphone adalah hal yang tabu. Dan saya bawa laptop? 

Dasar saya, sok menyandang gelar travel blogger sejati. Berusaha online dan live report dari tempat tujuan. Akhirnya malah menyusahkan diri sendiri. Jalanan setapak, menanjak, mendaki, turun naik, tak henti-henti sepanjang 30 menit dari tempat terakhir diturunkan oleh teman yang mengantar. 
sumber foto : liza-fathia.com
www.leuserlestari.com--“Liza, ayo bergabung dengan Komunitas Hutan Wakaf,” ajak Akmal Senja, seorang teman sudah lama saya kenal dan sangat peduli terhadap lingkungan. Kiprahnya dalam penyelamatan lingkungan sudah tidak diragukan lagi. Tulisan-tulisan tentang penyelamatan lingkungan dan argumentasi tentang kerusakan hutan serta kebijakan yang tidak berpihak pada kelestarian alam ia tuangkan dalam blog Hutan Tersisa. Sebuah buku yang berjudul sama pun telah diterbitkan. Tabek untuk bang Akmal.

Melalui diskusi ringan dengannya lewat Facebook, saya belajar banyak hal tentang lingkungan. Bahkan, tidak jarang jika hendak menulis sebuah tulisan yang berhubungan dengan hutan dan lingkungan, saya kerap meminta saran darinya. Contohnya saja tulisan tentang Pencemaran Merkuri di Tambang Emas Geumpang – Mane – Tangse.

Ajakan tersebut tidak langsung saya iyakan. Saya masih belum paham dengan hutan wakaf yang ia maksud. Memang, istilah wakaf sudah tidak asing lagi di telinga. Ia memiliki makna memindahkan hak milik pribadi menjadi milik suatu badan yang memberi manfaat untuk masyarakat banyak. Lantas apakah hutan wakaf ini bermakna sama dengan wakaf pada umumnya? Konsep yang ditawarkan seperti apa?

Penasaran, saya pun mengunjungi situs hutan-tersisa.org milik bang Akmal. Blog sederhana yang telah bermetamorfosis menjadi sebuah situs yang sangat menarik dan menjadi referensi banyak pihak khususnya yang berhubungan dengan lingkungan. Saya pun mencoba menelaah visi dan misi komunitas ini.

Hutan wakaf adalah inisiatif konservasi berbasis wakaf. Sebuah inisiatif yang dimulai sejak tahun 2012 yang awalnya hanya berupa tim kecil dengan 4 orang anggota dan sekarang telah menjadi sebuah grup atau komunitas.” Jelas bang Akmal pada sebuah tulisan di blognya.

Konservasi tersebut dimulai dengan membeli lahan kritis yang diperuntukkan untuk membangun hutan yang berfungsi secara ekologis, baik sebagai sumber mata air maupun penyerap karbon. Selain itu, pada hutan wakaf tersebut diupayakan dapat menyediakan buah-buahan dan tanaman obat, pepohonan tempat bersarang burung, lebah madu, primata, dan beragam spesies lainnya, dan bahkan kayu untuk dijadikan keranda saat seseorang meninggal.

“Karena statusnya wakaf, maka lahan tersebut disertifikatkan atas nama semua orang yang telah menyumbang.”

Menurut lelaki yang memiliki nama asli Afrizal Akmal itu, ancaman terhadap hutan selama ini adalah konversi langsung untuk pembuatan pemukiman, jalan, perkebunan besar, dan lainnya. Hektaran hutan yang dikelola negara sewaktu-waktu bisa saja dikonversikan oleh rezim yang berkuasa. Apalagi hanya sebidang lahan yang dimiliki secara pribadi oleh masyarakat. Walaupun negara sebenarnya melarang mengkonversikan lahan-lahan tertentu, tetapi tidak ada jaminan aturan tersebut akan tetap bertahan.

“Rezim berikutnya bisa saja mengubah aturan yang ada.”

Oleh karena itu, kehadiran hutan wakaf setidaknya dapat sedikit membendung ketamakan para penguasa untuk mengalihfungsikan hutan.

Fokus hutan wakaf ini adalah lahan kritis dan lahan potensial. Lahan kritis yang dibiarkan tanpa adanya perbaikan, maka secara ekologi, hidrologi, ataupun ekonomi lahan tersebut sama sekali tidak bermanfaat. Pun demikian dengan lahan potensial. Namun, jika lahan tersebut dikelola dengan baik tentu akan memiliki nilai yang sangat bermanfaat untuk lingkungan dan ekonomi masyarakat.

Hutan wakaf adalah salah satu tawaran dalam mencermati dinamika pengelolaan hutan yang selama ini masih didasarkan pada pendekatan sekularistik dan ateistik. Hutan wakaf menjadi sebuah pertimbangan terhadap ancaman krisis lingkungan yang terus meningkat terutama sebagai dampak dari deforestasi yang tidak terkendali. Lewat hutan wakaf ini diharapkan generasi masa depan masih bisa merasakan keindahan hutan dan sumber daya di dalamnya.”

Baca Selanjutnya di Blog Kak Liza


leuserlestari.com-Tahun 2012 lalu, tepatnya tanggal 28 November, sebuah resolusi yang cukup berat diambil di Persatuan Bangsa-Bangsa. Mereka menetapkan tanggal 21 Maret sebagai Hari Hutan Sedunia. Menurut data FAO, setiap tahunnya 13 juta hektar (setara dengan luas Negara inggris) lahan hutan menghilang dari muka bumi. Pertumbuhan penduduk yang tak lagi terkontrol, disertai deforestari hutan, memberikan sebuah kenyataan pahit, kiamat semakin dekat!


Beberapa hari, sebelum Hari Hutan Sedunia,


“Yud, dulu, tahun 1980an, sepanjang sungai Alas yang ada di Ketambe, kalau kita naik boat karet bisa melihat gajah, orangutan atau satwa-satwa endemic lainnya lagi main-main di sepanjang pinggir sungai. Hutannya masih lebat, suara burung pun masih terdengar jelas” di sebuah ruangan tak besar, ia bercerita mengenai keindahan hutan yang berada di kabupaten Aceh Tenggara tempat suaminya berasal. Pun, Ia pernah melakukan penelitian di sana kala masih mahasiswa. 
Leuserlestari.com--Taman Nasional terbaik di indonesia ini berada di dua provinsi. Provinisi Aceh  dan Sumatra utara. Dengan Aceh sebagai pemilik terluas dari total luas Taman Nasional Leuser.

Taman Nasional Leuser juga menyimpan begitu banyak keanekaragaman hayati. Termasuk sebagai tempat SATU-SATUNYA di Dunia, di mana Gajah Sumatra, Orangutan Sumatra, Badak Sumatra, dan Harimau Sumatra masih hidup dalam satu kawasan alami.

Sayangnya, laju perusakan hutan terlalu cepat. Sehingga, beberapa pengamat mengatakan dalam 10 sampai 20 tahun lagi, hutan di Aceh akan punah.

Jadi, tunggu apa lagi? Sebelum semuanya punah, Ayo Ke Leuser!

Salam Lestari


logger, Foto : Junaidi Hanafiah (mongabay.co.id)


Siapapun tidak akan percaya, bila dikatakan kalau provinsi terbarat indonesia ini sudah membuang uang dengan angka yang cukup banyak. 11,6 Trilyun rupiah selama 10 tahun terakhir. Jadi bila dirata-ratakan aceh kehilangan atau membuang uang sebanyak 1,1 Trilyun Rupiah pertahun. Tapi begitulah kenyataannya. Aceh membuang uang percuma dengan membiarkan laju kerusakan hutan kawasan Ekosistem Leuser cukup cepat. 

Menurut data dari mongabay.co.id yang di sadur melalui sebuah lembaga (beritanya ada di sini ) Kawasan Ekosistem Leuser, sudah hilang sebanyak 290 ribu hektar semenjak 2006 sampai 2016 lalu. Dengan laju deforestasi pertahun 32 ribu hektar. Memang, bila dilihat dari luas cakupan kawasan KEL itu hanyalah jumlah yang sedikit. Tapi, bukankah, sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit? 


Siang itu di sebuah ruangan yang cukup tertutup. Dalam kepulan asap rokok yang memerihkan mata, saya terkesima dengan konsep yang disampaikan olehnya. Tubuhnya gempal, tegap, dan masih terlihat begitu semangat. Di umur yang tak lagi muda, ia memaparkan sebuah konsep cluster focus pertanian dan peternakan sapi. Mungkin tepatnya penggemukan sapi. 


Ara Jehmen Kati Ara Besilo (ada zaman, baru ada sekarang) 
Adalah sebuah pepatah dalam Suku Gayo. Ini adalah salah satu bukti bahwa orang Gayo mempunyai tradisi dan peradaban yang tinggi dari zaman dahulu dan masih dipertahankan sampai sekarang. Di dalam adat suku Gayo, ada beberapa aturan mengenai pemanfaatan hutan belantara untuk kehidupan bermasyarakat.


Gajah sumatera yang merupakan bagian dari kehidupan manusia. Dahulunya, mamalia besar ini begitu dihormati dan mendapat tempat terhormat, baik sebagai penyambut tamu hingga sebagai pasukan perang. Mengapa sekarang dibunuh? Foto: Junaidi Hanafiah


Hewan bertelinga besar bak kipas ini tergeletak begitu saja. Berdiam diri. Bau, dan tak bernyawa. Sedih, kesal, marah, semua rasa bercampur aduk menjadi satu. Tapi, yang pasti. Ada degup jantung yang berdetak tak beraturan. Begitu cepat, dan, yang aku tahu, ini adalah emosi yang bergerak ke ubun-ubun. Gajah sumatraku, mati lagi!

Suatu hari, aku bertanya, apa salahnya? Apakah karena gadingnya yang menjadi suatu hal penentu strata sosial dalam bermasyarakat ataukah hanya sekedar sebuah keegoisan diri. Tapi inilah keadaan Gajah Sumatra di Aceh. Tempat di mana dulu dia begitu diagungkan. Tempat di mana dulu dia mempunyai tempat istimewa.